SEKILAS INFO
: - Kamis, 02-07-2020
  • 5 bulan yang lalu / Pelaksanaan Yudisium di laksanakan pada tanggal 4 Februari 2020
Teknologi Ramah Lingkungan untuk Mengurangi Bahaya Peleburan Aki Bekas Secara Konvensional

BANDUNG, itb.ac.id – Salah satu material utama penyusun aki adalah timbal (Pb). Timbal memiliki berbagai dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan jika tidak diolah dengan bijak. Upaya mengurangi bahaya peleburan aki bekas secara konvensional tersebut dipaparkan oleh Dosen Teknik Metalurgi ITB Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan, S.T., M.T. dalam webinar berjudul “Selamatkan Lingkungan dari Peleburan Aki Bekas Ilegal” yang diadakan Direktorat Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Non Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan tema “Time For Nature” untuk memeringati hari lingkungan hidup pada Selasa (16/6/2020) lalu secaradaring.

Aki
yang berfungsi sebagai penyimpan energi listrik dalam bentuk kimia pada
kendaraan bermotor seakan menjadikannya bagian tak terpisahkan. Adapun material
utama penyusunnya adalah timbal (Pb) baik dalam bentuk logam maupun pasta.
Namun permasalahan ditimbulkan saat aki sudah habis umur pakainya karena timbal
mengakibatkan beberapa dampak negatif jika tidak diolah secara benar.

Pada
webinar ini, Zulfiadi mengulas topik tentang proses pengolahan aki bekas dengan
judul presentasi “Teknologi Peleburan Aki Bekas Ramah Lingkungan.” Latar
belakang fokus bahasan timbal pada aki karena data menunjukkan sekitar 80%
timbal dimanfaatkan untuk elemen penyimpanan energi listrik. Selain itu Zulfiadi
menyampaikan bahwa proyeksi kebutuhan aki terus melonjak untuk beberapa tahun
ke depan dengan salah satu indeks pertumbuhannya mencapai 6,09%. Hal tersebut
disebabkan oleh peningkatan populasi manusia yang selaras dengan peningkatan
kebutuhan kendaraan bermotor.

Tak
kalah menarik, produksi timbal dari proses daur ulang lebih tinggi daripada
hasil penambangan dari alam. “Kedepannya, timbal harus dapat didaur ulang dengan
bijaksana untuk mengurangi dampak pada lingkungan dan sebagai bentuk konservasi
sumber daya alam,” ungkap Ketua Prodi Teknik Metalurgi ITB tersebut.

Dewasa
ini, proses daur ulang aki bekas secara konvensional masih marak
ditengah-tengah masyarakat karena prosesnya yang mudah dan tidak membutuhkan
biaya investasi tinggi. Kegiatan peleburan ini disebut juga Backyard Lead Smelting yang memanfaatkan
prinsip peleburan timbal dengan tungku terbuka karena titik lebur timbal
relatif rendah dibanding logam lain, yaitu 327,5 °C. Namun teknologi ini hanya dapat
mendaur ulang logam timbal. Sehingga timbal dalam bentuk pasta terbuang yang
berarti menurunkan perolehan timbal daur ulang.

Selain
hasil daur ulang yang kurang maksimal, nyatanya kegiatan itu menyimpan dampak
luar biasa terhadap manusia dan lingkungan. Karena timbal lebih cepat melebur,
hal itu mengakibatkan timbal juga mudah berubah menjadi fasa gas. Timbal dalam
bentuk gas yang terhirup oleh manusia dapat mengakibatkan cacat, disfungsi
saraf, bahkan kematian. Sedangkan pengolahan aki bekas yang sembarangan dapat
mengakibatkan pencemaran air, tanah, dan udara. Larutan elektrolit asam sulfat
yang ada dalam aki juga dapat mencemari air dan tanah jika tidak ditangani
dengan baik.

Adapun
salah satu teknologi bersih yang dapat diterapkan untuk mendaur ulang aki bekas,
yaitu Short Rotary Furnace atau Tanur
Putar. Proses diawali dengan preparasi material aki bekas untuk memisahkan
bagian-bagian aki sesuai dengan jenisnya. Selanjutnya, logam timbal akan
langsung dilebur dalam tanur, sedangkan timbal pasta dapat diproses melalui
tahap desulfurisasi atau penghilangan senyawa sulfur sebelum dilebur. “Kunci
dari proses daur ulang logam adalah tahap pengumpulan bahan bekas pakainya.
Sehingga pemerintah perlu membuat sebuah kebijakan yang mengatur hal ini untuk
mempermudah daur ulang dan dapat mengurangi bahayanya terhadap lingkungan,”
ungkap Zulfiadi.

Disebut
teknologi bersih karena hasil samping proses, seperti debu, terak, dan gas
dapat ditekan kandungan timbalnya meski dapat juga diolah lebih lanjut sehingga
aman untuk dibuang. “Terak hasil peleburan mengandung sekitar 1% timbal.
Meskipun sedikit, KLHK perlu memerhatikan ini agar limbah aman untuk dimanfaatkan
lebih lanjut atau dibuang ke lingkungan,” imbuhnya. Selain itu, keamanan
pekerja juga diperhatikan dengan pemasangan hood
sebagai alat untuk menyerap gas timbal yang dihasilkan selama proses peleburan.

Disamping
teknologi peleburan, teknologi daur ulang timbal dengan proses hidrometalurgi
(melarutkan senyawa dalam larutan untuk mendapat logam tertentu) juga terus
dikembangkan. Hal ini didasari oleh tidak dihasilkannya emisi gas, debu, dan
terak sebagai limbah prosesnya. Akan tetapi teknologi ini masih menghadapi beberapa
tantangan, di antaranya tingginya operasi untuk pengambilan kembali logam
timbal dari larutan melalui proses electrowinning.
Selain itu, limbah larutan sisa proses membutuhkan penanganan yang baik. “Tujuan
utama dari proses daur ulang timbal, yaitu memanfaatkan teknologi dengan
maksimal untuk dapat meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkannya,”
pungkasnya.

Reporter:
Surya Putra Andrianto (Teknik Metalurgi, 2016)

TINGGALKAN KOMENTAR