SEKILAS INFO
: - Kamis, 22-10-2020
  • 9 bulan yang lalu / Pelaksanaan Yudisium di laksanakan pada tanggal 4 Februari 2020
Menristek/Kepala BRIN: Indonesia Jalankan Program Double Track untuk Produksi Vaksin Covid-19

SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL

Nomor: 94/SP/HM/BKKP/VII/2020

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro melakukan live talkshow Berita Utama Kompas TV pada Senin (20/7). Menteri Bambang menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 adalah hasil kerja sama antara PT Bio Farma dengan perusahaan farmasi asal Tiongkok Sinovac. Rencana vaksin diuji secara klinis untuk tahap ketiga pada Agustus 2020, dan Indonesia merupakan salah satu dari lima negara yang akan menjalankan uji klinis dari vaksin yang dikembangkan dengan platform virus yang dilemahkan.

Sementara itu vaksin lokal masih dalam proses pengerjaan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang tahapannya sekitar 30 persen yang dikembangkan dengan platform yang berbeda yaitu protein recombinant. “Targetnya sampai akhir tahun ini bisa menyelesaikan uji pada hewan sehingga tahun depan bisa dimulai dengan uji pra klinis dan klinis. Diharapkan kerjasama dengan BPOM untuk percepatan uji klinis vaksin merah putih bisa tersedia pada tahun 2021,” ujar Menteri Bambang.

Menteri Bambang menekankan bahwa tim pengembangan vaksin menggunakan prinsip cepat, efektif, dan mandiri. Cepat tetap diperlukan karena saat ini semua negara saling berlomba untuk mengembangkan vaksin. Efektif penting karena kita ingin vaksin ini cocok untuk virus terutama yang bertransmisi di Indonesia. Mandiri yang paling penting karena negara kita bukan negara kecil. Negara dengan penduduk 260 juta tidak bisa menggantungkan vaksinnya hanya dengan membeli vaksin dari luar negeri. Menurut Menteri Bambang, penetapan harga vaksin belum bisa ditentukan karena vaksin belum ditemukan. Dengan harga 5 sampai 10 Dollar adalah informasi dari Bio Farma terkait vaksin baru.

“Menurut perhitungan dari PT Bio Farma, vaksin dari Tiongkok akan diuji klinis selama tiga bulan kemudian dilakukan analisa terhadap keberhasilan uji klinis tersebut dan dengan izin edar dari BPOM, diperkirakan paling cepat mulai bisa diproduksi secara massal pada awal tahun 2021. Sesudah diproduksi baru akan dilakukan vaksinasi. Kita akan menjalankan kebijakan double track, artinya kerjasama dengan Sinovac tetap didorong tapi vaksin mandiri tetap dibutuhkan karena Indonesia tidak boleh membeli 100 persen vaksinnya hanya dibeli dari luar negeri,” tutup Menteri Bambang.

TINGGALKAN KOMENTAR