SEKILAS INFO
: - Sabtu, 08-08-2020
  • 6 bulan yang lalu / Pelaksanaan Yudisium di laksanakan pada tanggal 4 Februari 2020
Dosen IPB University Temukan Obat Herbal Penurun Asam Urat

Bogor – Tanaman obat  sidaguri, seledri dan tempuyung dapat digunakan sebagai formula obat herbal anti gout atau penurun asam urat dengan mekanisme inhibisi terhadap enzim xantin oksidase (XO).  Enzim ini merupakan enzim yang dapat mengkatalisis oksidasi xantin menjadi asam urat.  Penemuan ekstrak terstandar anti gout sebagai bahan fitofarmaka dicapai melalui serangkaian penelitian dari hulu sampai hilir yang dilakukan peneliti mulai tahun 2003 sampai 2011. 

Peneliti sekaligus Dosen IPB University dari Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Dyah Iswantini mengatakan, hasil penelitian ini telah ditemukan formula ekstrak terstandar yang mempunyai khasiat sebagai anti gout yaitu mampu menurunkan kadar asam urat dan anti inflamasi atau anti peradangan.Hasil penelitian ini sudah dipatenkan dan  saat ini sudah dinyatakan granted dengan nomor: ID P 0025311 (tahun 2010). Sebagian dari hasil penelitian ini sudah dikomersialkan yaitu: Nuric. Penemuan formula anti gout telah mendapat penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi RI bekerjasama dengan Business Innovation Center (BIC) sebagai salah satu dari 100 Inovasi Paling Prospektif Indonesia pada tahun 2008. 

Tidak hanya itu, inovasi tersebut telah memperoleh penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari Pemerintah Indonesia tahun 2009, memperoleh Anugerah IPTEK Widyasilpawijana Duta IPTEK dari Menteri Riset dan Teknologi RI tahun 2011, serta menjadi salah satu  “Best Research” dari  Ristek Kalbe Science Awards 2012.

“Berdasarkan analisis finansial menunjukkan bahwa produk anti gout ini sangat berpotensi untuk dikomersialkan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, formula yang berpotensi sebagai anti gout yang telah ditemukan pada penelitian sebelumnya mengandung bahan baku seledri dengan komposisi yang tinggi sehingga memungkinkan biaya produksi tinggi. Hal ini tentu kurang menguntungkan dalam upaya komersialisasi produk. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan reformulasi terhadap formula anti gout yang telah ada agar diperoleh formula anti gout baru dengan aktivitas yang tinggi namun biaya produksi yang bersaing. 

“Upaya reformulasi ini telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa telah diperoleh formula baru dengan nilai ekonomi tinggi. Hal ini karena ekstrak penyusun formula terdiri dari ekstrak seledri yang mempunyai porsi yang sangat sedikit dan pelarut yang digunakan adalah air.  Khasiat fomula baru ini sangat menjanjikan karena hampir sama dengan allopurinol sebagai kontrol positif. Khasiat ini tidak hanya sebagai penurun asam urat dalam darah tetapi juga berkhasiat sebagai anti inflamasi dan diuretik,” jelas Prof Dyah.

“Sidaguri merupakan tumbuhan liar yang perlu dibudidayakan, dan Seledri merupakan tanaman yang sehari-hari digunakan sebagai sayuran. Sedangkan tempuyung termasuk tanaman yang digunakan sebagai sayur. Jadi semua tanaman penyusun obat herbal antigout atau penurun asam urat ini mudah ditemukan di sekitar kita. Simplisia ketiga tanaman tersebut juga mudah diperoleh di penyedia jamu dan di supplier-supplier bahan jamu di Indoneisa,” ujarnya.

Prof Dyah menjelaskan, target dari penelitian dua tahun ke depan adalah dapat dihasilkan produk obat herbal terstandar antigout atau penurun asam urat  yang telah didaftarkan ke BPOM dan siap dikomersialkan. Saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencapai target komersialisasi bekerjasama dengan  PT BLST dan PT Biolife Indonesia. 

Produk komersial antigout atau penurun asam urat ini diharapkan diminati oleh masyarakat dengan tujuan  agar masyarakat dapat berkontribusi dalam usaha meningkatkan nilai tambah biodiversitas Indonesia. Produk ini juga diharapkan menjadi sediaan yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Prof Dyah berharap setelah dihasilkan produk komersial anti gout yang terdiri dari ekstrak pegagan, kumis kucing dan tempuyung nanti maka penderita gout atau asam urat di Indonesia dapat mengkonsumsi obat herbal Indonesia anti gout ini. Hal ini merupakan partisipasi masyarakat Indonesia dalam mensukseskan program pemerintah yaitu Saintifikasi Jamu (pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan) yang telah dicanangkan sejak 2010 yang fokus penyakitnya adalah: Hipertensi, hyperuricemia (kandungan asam urat dalam darah tinggi), hiperglikemia (kandungan gula darah tinggi)  dan hiperkolesteromia (kandungan kolesterol tinggi dalam darah).

Selain itu, dengan membiasakan diri mengonsumsi obat herbal yang berbasis tanaman obat asli Indonesia dapat meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai penghasil obat herbal di dunia dan meningkatkan nilai tambah tanaman obat Indonesia menjadi produk yang lebih bermanfaat bagi kesehatan manusia. 

sumber :
https://ipb.ac.id/news/index/2020/07/dosen-ipb-university-temukan-obat-herbal-penurun-asam-urat/20860794ff877ed0c67d15e0b0e59520

TINGGALKAN KOMENTAR