SEKILAS INFO
: - Kamis, 22-10-2020
  • 9 bulan yang lalu / Pelaksanaan Yudisium di laksanakan pada tanggal 4 Februari 2020
Bisnis Startup Ecodoe Menghadapi COVID 19

Jakarta – Berawal dari kesempatan berkunjung ke daerah Dharavi, pusat Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) terbesar di India, pendiri Ecodoe terkejut melihat warga setempat bergotong royong memproduksi aneka produk. Meskipun dengan kondisi tempat yang luar biasa sempit namun mampu meng-eksport ke suluruh dunia melalui  digital  platform. Kondisi ini jauh berbeda dengan sentra kesenian yang ada di Indonesia. Pengrajin lokal mendapatkan pendapatan yang minim dan harus menunggu pelanggan yang datang karena masih berjualan secara online.

Hal inilah yang mendorong Laras Widyaputri selaku CEO Ecodoe dan dibantu oleh 4 orang SDM lainnya, yaitu Istiq Farila sebagai Co-Founder, Wahyu Prasetya sebagai CFO, Kinta E. Herawan sebagai CMO, dan Fitri Nurrachmah sebagai CBDO membuat platform souvenir e-procurement di Indonesia. 

Ecodoe adalah sebuah aplikasi IT yang menyediakan platform untuk kreator Indonesia supaya dapat terhubung dengan buyer souvenir yang membutuhkan dalam jumlah besar dan cepat. Pendiri dan direksi Ecodoe merupakan serial entrepreneurs yang telah memiliki bermacam pengalaman berbisnis maupun bekerja di jaringan perusahaan internasional. Ecodoe mulai berdiri menjadi distribusi produk UMKM pada tahun 2016, dan secara terus-menerus menemukan feedback dari klien yang biasanya membeli produk Ecodoe untuk keperluan bisnis/kantor mereka seperti kegiatan pemerintah, perusahaan swasta dan NGO. 

Pada tahun 2018 Ecodoe menerima pendanaan Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristek/BRIN (dahulu Kemenristekdikti) melalui inkubator UBPreneur (Inkubator Bisnis Bakrie). Kemudian di tahun berikutnya, 2019 kembali menerima pendanaan program PPBT ini melalui inkubator Incubie. Dengan mengadopsi saran dari reviewer, mentor, dan juga coach, Ecodoe dapat meningkatkan omzet bisnis, dan mengubah business model-nya menjadi B2B.

Dengan mendapatkan mentoring secara terus menerus dari para mentor dan coach serta reviewer, Ecode dapat melampaui target KPI dalam hal penjualan yaitu tumbuh sebesar 847% di tahun 2018 dan 170% di tahun 2019. Ecodoe juga dapat mengembangkan sistem broadcasting massal serta manajemen order yang mudah digunakan oleh kreator dari lokasi dengan jaringan internet rendah. 

“Adanya pendanaan dari Kemenristek/BRIN membantu kami dalam melakukan literasi di bidang pemasaran, pengembangan teknologi serta investasi manajemen SDM yang lebih berkualitas. Atas perkembangan tersebut juga kami menjadi Juara 1 Business Roadmap pada acara PPBT Business Camp”, tutur Laras Widyaputri.  

Hingga saat ini Ecodoe telah membukukan lebih dari Rp 7 milyar transaksi, menjual ratusan ribu unit produk, menerima lebih dari 50 juta unit permintaan pengadaan produk. Hal tersebut tentunya memberikan manfaat ekonomi bagi UMKM yang bernaung di bawah platform Ecodoe, karena secara total ada Rp 4,5 milyar transaksi yang tersalurkan kepada UMKM di seluruh Indonesia. 

Di masa pandemi Covid-19 ini, bisnis Ecodoe pun terkena dampak. Namun seluruh tim telah membuat perubahan besar bagi perusahaan untuk mencari berbagai peluang baru yang menopang goal jangka panjang secara lebih luas lagi. Dalam seminggu, terjadi penurunan jumlah prospek secara drastis sehingga tim memikirkan cara agar Ecodoe, yaitu tim dan creator dapat bertahan. Salah satunya dengan mengedukasi creator untuk memproduksi perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD), masker kain, dan perlengkapan medis lainnya.

Dalam tiga hari promo Ecodoe mendapatkan permintaan lebih dari 200.000 pcs. Bahkan ada permintaan 10 juta pcs masker kain. Sampai dengan bulan April saja telah terjual 1003 baju APD, 2250 pcs masker kain standar WHO, 397 botol Hand Sanitizer dan 50 unit penutup sepatu. Kemudian Ecodoe menginisiasi Ecodoe Group sebagai bentuk usaha membawahi Ecodoe.com (B2B E-procurement) dan Commerce Advisory (digital agency). Sebagai bentuk kontribusi kepada UMKM, Ecodoe tidak hanya memberikan akses melalui Ecodoe.com namun juga berencana meluncurkan UMKM e-Inkubator sebagai medium akselerasi UMKM agar naik kelas. Harapan  UMKM dapat tumbuh setelah di-inkubasi, seperti yang Ecodoe alami melalui program PPBT Kemenristek/BRIN. 

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi
Deputi Bidang Penguatan Inovasi
Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR